Human Theory

Halo, ya. Udah lama gak nulis kayaknya.

Akhir2 ini gue bertemu sama beberapa manusia dari berbagai ras, tipe, gender sampe sifat mereka.
Mungkin bahasan ini lebih spesifik ke berbagai sifat orang-orang yg gue temuin 19tahun ini. Jadi gue memutuskan buat nulis ini di blog, dan  gak perlu lama just fasten your seatbelt and enjoy.
Sebelum kita ngebahas soal sifat-sifat/karakteristik  manusia, ada baiknya kita npahami dulu apa itu ‘manusia’.
Well, ‘Manusia’ itu makhluk ciptaan Tuhan yg serupa dengan-Nya, kalo lo mau bayangin gimana rupa Tuhan sebenarnya mungkin bisa sambil ngaca. Gue belm pernah ketemu Tuhan face to face, jadi gue juga gak bisa definisikan rupa-Nya ke lo.
Terlalu religius? Tenang, gue gak akan ngajak kalian debat adu kebenaran teori Big Bang, Black Hole, Evolusi si Darwin ngelawan kebenaran Tuhan kok. Tapi kalo mau nanya, gue hafal semua. haha

Sifat-Sifat Manusia yang pernah gue temuin:

  1. Manusia Berekor

Jangan beranggapan gue pernah ketemu siluman, sungokong atau son goku. Ini Cuma analogi, Manusia Berekor yang gue maksud sama dengan penjilat. Tipe yang begini berpopulasi paling banyak di bumi, kalian bisa nemuin 5meter dari dimanapun tempat kalian berdiri sekarang (sakin banyaknya).
Spesies begini bahasa latinya Penjilatus Traitorus Bangsatus. Catet di buku catetan kalian.
Gue mungkin manusia yang bertolak belakang sama sifat ini, ketika gue salah telat masuk kelas gue lebih memilih diem dengan tingkah laku layaknya orang yg bersalah, tapi spesies ini lebih memilih ‘counter attack’ ke Guru dan sok obral senyum, kebaikan dan omongan. Biasanya sih yg diomongin ‘Bu haus ya? Aku ambilin minum ya’ ‘Pak, tugas apa ajasih hehe?’ dll.
Orang awam seperti kalian mungkin gak bisa liat, tapi mat ague seolah-olah ngeliat ekor yang lagi goyang-goyang di pantat mereka. Layaknya anjing gue yang pasang muka melas pas gak dikasih nugget kesukaanya.
Jujurnya, gue pernah beberapa kali pake taktik seperti ini saat gue salah, dan akhirnya perut gue mules sendiri pas inget apa yang gue lakuin barusan. 

   2. Manusia Viking Era Modern

Nah, yang begini berbahaya, gak masuk kategori  suamiable atau istriable buat kalian. Nama latinya Barbarus Kurangus Ajarus, atau nama imutnya Manusia Barbar.

Manusia yang seperti ini struktur otaknya keras, pernah motong es batu balok pake piso silet? Mereka lebih keras dan susah dari itu.
Kalo katanya tubuh manusia terdiri dari 70% Air, tubuh manusia barbar terdiri dari 70% Emosi, 29% Air dan sisanya bisa dibilang sisi baik mereka.
Ada 2 Tipe Manusia Barbar, yang langsung meledak marah saat ada yang bikin dia emosi dan yang dipendam dulu marah nya baru suatu saat meledak. Beda tipislah sama anak Krakatau.
Suatu hari lo ngeliat kucing ngambil makanan lo, orang kaya gue mungkin terlalu males buat ngejar si kucing sambil mengumpat blab la bla, toh dia ngambil buat makan juga gak buat dijual trus beli rokok atau mabok-mabokan, itu pikiran sederhana gue. Tapi yang dilakuin Manusia Barbar saat itu terjadi ke mereka, mereka bakal ngejar tuh kucing, bawa benda yang disekitar dia, mukul tuh kucing sampe mereka ngerasa ‘oke ini cukup setimpal atas kesalahan lo, cing’, soal makanan nya? Gak mungkin mereka ngambil lagi.
Apa yang mereka dapetin? Cuma rasa puas, apa yang si kucing dapetin? Sanksi yang gak sepadan sama apa yang dia lakuin. Itulah pola pikir Manusia Barbar, mengutamakan Emosi dibandingkan Akal Sehat. Tapi kaum mereka juga pandai menutupi sifat aselinya dari orang sekitar, lebih baik hati-hati pacaran sama yang tipe begini, rata-rata tangan mereka ringan beratnya disbanding populasi Manusia lain, jadi..  Ngerti kan?

   3.Manusia Berkepala Kotak

Sama seperti sebelumnya, sebutan itu cuma analogi. Kalo kalian mau tau apa nama latin sepesies ini ambil buku catetan dan pulpen kalian!
Para ahli pemantau hidup di dunia seperti gue biasanya menyebutnya Bebalus Kampretus, atau biar gampang Manusia Bebal.
Sebisa mungkin hindari spesies seperti ini, di ekosistem mereka, mereka biasanya hidup berkelompok kayak rusa afrika atau laron terbang.
Kenapa gue bilang kepala mereka kotak? Dasar prinsip hidup mereka cuma 2 yang mereka bisa percayai: Kata-kata mereka sendiri dan Kata-kata dari kaumnya. Mereka anti yang namanya masukan, semua kritik, saran, komentar di tolak mentah-mentah tanpa ampun.
Jangan tanya kenapa mereka begitu, karena memang begitulah cara kerja otak mereka, semua serba dikotak-kotakan.
Di dalam kelas saat presentasi gue pernah berhadapan sama orang-orang kayak gini, saat salah satu dari mereka bertanya, dan gue jawab. Gerakan normal dari mereka, pasang muka heran sok mengerti lebih dari lawan bicara, bak Enstein berlagak menceritakan ulang apa yang mereka pikir itu benar. Gue maklumin karena ini suasana diskusi, setelah gue jelasin kalo jawaban mereka salah, mereka bales dengan teori suka-suka dan nyerang balik, gue adu lagi sama teori yang gue punya (mana mungkin ini tugas gue dan mereka yang ngerasa lebih ngerti?), orang itu terpojok tapi tetep pasang muka yang bikin tanggan lo gatel mau lempar klipingan tugas lo ke muka dia. Tiba-tiba salah satu kaum mereka ikut bicara dan membenarkan teori teman seumatnya itu, sementara orang terpojok barusan senyumnya merekah seakan bilang “terimakasih wahai saudaraku, terimakasih..”  Akhirnya pertarungan hari itu dimenangkan oleh ras manusia gue (gue dan dibantu penjelasan guru). Mereka paham itu cukup buat gue, gak perlu ada yang ngerasa sok menang atau benar.
Contoh nyata lainya gak perlu jauh-jauh, yang paling nge-hits banget (duileh,) ada ormas-ormas berkedok dan di backing Agama mencoba sok membenarkan yang salah menjadi utusan Tuhan, macam Gabriel-Gabriel yang  bersinar-sinar menghukum langsung siapa yang melakukan hal diluar peraturan agama mereka. Saat diberi penjelasan mereka menolak.
Begitulah apa yang dipikirkan orang bebal. Gimana bisa lo menyatakan orang itu bersalah pake standard lo, dan gak mencoba nanya gimana standard yang mereka punya?
Standard gue kalo pake celana pendek ke mall itu biasa, dan lo hokum gue karena standard yang lo punya itu orang yang pake celana pendek itu salah.
Inilah alasan gue nyuruh kalian jauh-jauh dari spesies yang seperti ini.
“Don’t argue with idiots because they will drag you down to their level and then beat you with experience.” —Greg King

   4.Manusia Berbahan Dasar Semen

Semen yang gue maksud ini semen dalam artian bahasa Indonesia,  jangan sekali-kali translate ke bahasa Inggris.
Nama latin mereka Mukaus Tembokus Ngeheus atau nama populernya Muka Tembok. Yang seperti ini sih gak terlalu berbahaya dan gak banyak ngerugiin diri sendiri kalo bergaul sama mereka.
Spesies mereka punya rasa percaya diri yang tinggi diatas manusia rata-rata pada umumnya, kadang gue pengen seperti mereka tapi gue cuma bisa menyerap 10% dari kemampuan mereka.
Gue punya teman yang kayak gini, dia bisa nyanyi santai ditengah-tengah orang banyak, atau ketawa ngakak di tengah jalan, gak peduli apa tanggepan orang lain.
Mungkin Cuma sedikit yang mau temenan sama spesies ini yang level nya udah akut, temen gue itu bisa dibilang akut. Tapi karena emang pada dasarnya gue gak suka milih-milih temen jadi gue santai aja temenan sama dia.
Alasan kenapa gue lumayan suka temenan sama spesies ini,  Karena kemampuan mereka ini bisa di andelin saat sesuatu yang gue gak biasa lakuin dan nyuruh mereka lakuin. (cth: bertanya sama orang, bertanya saat kesasar, dll) Gue jahat? Terserah kalian bilang apa, bagi gue itu salah satu cara bertahan hidup aja.

   5.Manusia Berlidah Dua

Hampir sama kayak Manusia Berekor, tapi Tunkangus Fitnaus Nyinyirus Bajingaus (Tukang Nyinyir) ini lebih bahaya dari segala jenis spesies lainya.
Mereka bergerak, bernafas, beraktifitas layaknya manusia pada umumnya. Tapi di belakang itu mereka bisa nusuk kalian pake kata-kata dari belakang.
Macam Anaconda cuma bedanya punya kaki aja, lidah mereka seakan terbelah dua. Satu dipakai disaat yang mereka butuh, satu lagi dipake buat segala sesuatu yang bertolak belakang.
Spesies seperti ini banyak dan susah dideteksi keberadaanya, mungkin sonar suara lumba-lumba aja gak bisa dipake buat memantau keberadaan mereka ini.
Suatu hari kayak biasanya gue ngobrol sama beberapa temen yang biasanya emang sering main bareng, setelah itu salah satu dari mereka nyamperin gue dan ngomong yang aneh-aneh soal temen satunya lagi. Anehnya kalo emang dia punya salah kenapa harus diomongin dari belaknang padahal barusan kumpul bareng-bareng.
Mungkin tujuan spesies ini selalu menghasut seseorang buat ikut pola pikir mereka, kalo mereka mau menghasut gue ke sesuatu yang nguntungin buat gue baru gue ikut.
Tapi kadangnya juga kemampuan mereka dipake buat membela diri juga, saat terpojok atau dalam keadaan yang bahaya, mereka keluarin tuh lidah cadangan yang udah penuh racun-racun.

   6.Manusia Dalam Bayangan

Nama latinya Manusiaus Penyendirius, atau Lone Wolf atau Penyendiri ajalah biar gampang.
Nah, inilah spesies gue. Mungkin sedikit dari kami yang kelihatan di permukaan, tapi menikmati gelap dalam bayangan itu menyenangkan.
Rata-rata tipe manusia seperti kami santai, gak suka sesuatu yang ribet, kalo gak suka jangan lakuin tapi kalo itu penting lakuin dengan cepat, selalu berdiam di belakang cahaya, takut bicara sama orang lain, skill interaksi komunikasi yang payah dll.
Bicara soal skill komunikasi, gue bisa menghabiskan 2jam cuma bahas “namanya siapa” “rumahnya dimana” “kesini naik apa” dan diulang lagi dari awal, tanpa sadar orang yang jadi lawan bicara itu nyari alasan untuk lari dari zona pembicaraan yang gue buat. Dan itu terjadi sejak gue kecil, itulah kenapa gue gak bisa bikin percakapan awal, mungkin orang lain bilang sombong, sebenernya kami itu lagi berpikir keras.
Tapi kalo spesies kami bersatu maka kami bisa membangun sebuah dunia imajinasi tanpa batas yang mungkin gak bisa kalian sentuh sama sekali para manusia normal.
Grogi saat presentasi atau maju ke-depan umum, selalu panik kalo pembagian kelompok dari guru (kalo gak cocok gimana?) dan panik juga kalo pembagian kelompok sendiri (siapa yang mau milih gue nih?), dll.
Spesies kami juga lebih suka memahami atau mendengarkan saja apa yang terjadi di depan mata, gak pelu dihumbar-humbar.
Gak ada banyak kemampuan yang bisa kalian pelajari dari kami, tapi setiap orang mempunyai cara dtersendiri untuk meikmati hidup mereka.

"Don’t Grow Up, It’s A Trap"

21 September kemarin tepat ngerasain apa itu umur 19, walaupun sama aja kayak umur sebelumnya. Di umur 19 udara yg lo hirup tetep aja dinamain Oksigen, di umur 19 langit yang lo liat tetep aja biru dan di umur 19 roti yg sebenernya lo panggang tetep aja dinamain roti bakar.
Tapi mungkin ini tahun terakhir lo bisa disebut “anak belasan tahun”, karena september depan lo udah ga bisa di panggil “Mau beli apa dek?” sama tukang nasi goreng, tapi “Mau beli apa mas?” karena umur lo udah kepala “2”. Serem gak sih? Lebih serem ini kayaknya daripada nonton Insidious 2 di kamar pas malem jumat.
Walaupun sama-sama masih bisa dibilang remaja, rasanya 19 sama 20 itu terlalu jauh buat di sebrangin. jauh.. jauh.. jauh.. *bergema*
Bagaimana bisa dibiilang udah umur 20 sedangkan tiap hari kerjaan cuma baca komik, main game sama googling tampang Anais Gallagher yg cakepnya kurang ajar…..
Oke, kita lupai Anais, fokus ke tulisan ini. Sebelum masuk ke umur 20 kayaknya mending review masa remaja diri sendiri.
Jadi 1 dari (hanya) 5 siswa SD yg masuk SMP Jakarta, kehidupang SMP gue dimulai dari sebuah mimpi. Setelah ngobrol, anak2 lain mayoritas bilang asiknya masuk SMP krn mau ketemu cewek-cowok cakep, sementara cuma gue anak yg punya mimpi pengen ngeliat perpustakaan SMP yg (kabarnya) lebih gede dari SD. “Tidur, nginep, tinggal disitu juga gue mau. Bayangin buku-buku lengkap yg gak pernah lu baca ada disitu, bayangin nya aja bikin kesemsem.” Setelah ngomong begitu obrolan yg tadinya seru pun bubar dengan cara satu-persatu alesan mau ke kantin & toilet. Oke, ini gara-gara imajinasi aneh gue. ….
Next, akhirnya apa yg gue bayangin jadi nyata, perpusakaan SMP gue lumayan gede. Rela masuk awal demi ke perpus, istirahat ke perpus, pulang juga ke perpus, dan kalo mau tutup mesti ditarik-tarik dulu sama penjaganya.
Walaupun gak setiap hari masa remaja SMP gue lewatin di perpus dan penjaganya yg masih pelit gak bolehin minjem buku lebih dari 3, tapi diluar itu skill berinteraksi dengan sesama makhluk bumi gue mulai berkembang. Awalnya dari kecil emang paling males ngobrol sm orang yg baru kenal, apalagi memulai topik. Itu harus dipikirin 1 jam dulu.
"halo, gue dika" "gue ryan" (jeda waktu 10menit)
"kelas berapa yan?" "7-4" "oh.." (jeda 20menit)
"rumah dimana yan?" "pondok kopi" "jauh ya" "iya" (jeda 25menit)
"kelas berapa yan?" "tadi kan udah" "………." *akhirnya dia perlahan tapi pasti pergi jauh*

Lanjut ke masa SMA,
Emang bener sih yang orang-orang bilang